Dikatakan
pula bahwa Airlangga merasa bingung karena harus memberi kerajaan kepada dua
orang anak laki – lakinya. Maka ia mengutus Mpu Bharada pergi untuk meminta
kerajaan di bali diberikan kepada anaknya yang kedua. Pergilah Mpu Bharada ke
bali menyebrangi selat bali diatas daun kekatang (keluih). Mpu Kutura tidak
dapat memenuhi permintaan raja Airlangga, karena Mpu Kutura telah mempersiapkan
kerajaan di bali dengan keturunannya sendiri. Akhirnya Airlangga membagi tanah
jawa menjadi dua. Dalam pelaksanakannya kembali dilakukan oleh Mpu Bharada.
Tampilkan postingan dengan label BABAD NUSANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BABAD NUSANTARA. Tampilkan semua postingan
KISAH KERAJAAN KEDIRI IV / V
Menurut
Serat Calon Arang, karena penolakan ini Airlangga kemudian bingung memilih
pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat
dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu
putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali. Di kisahkan
dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai
daun. Sesampainya di Bali Mpu barada mengajukan niat tersebut namun mengalami
kegagalan. Mpu Bharada menyampaikan permintaan tersebut kepada mpu Kuturan
sebagai ayah Udayana, tetapi permintaan itu ditolak oleh mpu Kuturan yang sudah
mempunyai calon sendiri buat menjadi raja di bali. Fakta sejarah menunjukkan
Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai raja Bali, dan
Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.
Airlangga
lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan
perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat
dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka
terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat
KISAH KERAJAAN KEDIRI III / V
Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan
pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042),
pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang).
Beberapa kebijakan yang tercatat
pernah dilakukan pada masa kepemimpinan Airlangga di Kediri diantaranya,
·
Tahun 1035 memerintahkan Mpu Kanwa menulis Arjuna
Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan
perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga
mengalahkan Wurawari
·
Tahun 1036 membangun Sri Wijaya Asrama.
·
Tahun 1037 membangun bendungan Waringin Sapta
·
Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di
muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
·
KISAH KERAJAAN KEDIRI II / V
Setelah tiga tahun hidup di hutan,
Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali
Kerajaan Medang. Mengingat kota Wwatan sudah hancur, Airlangga pun membangun
ibu kota baru bernama Watan Mas di dekat Gunung Penanggungan. Ketika Airlangga
naik takhta tahun 1009 itu, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah Sidoarjo
dan Pasuruan saja, karena sepeninggal Dharmawangsa Teguh, banyak daerah bawahan
yang melepaskan diri.
Pada tahun
1019 M Airlangga secara resmi dinobatkan sebagai raja oleh para pendeta syiwa,
Buddha dan mahabrahmana sebagai raja dengan gelar “Rake Halu Sri Lokeswara
Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa”. .
Pada tahun 1023, Kerajaan
Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa
raja Colamandala dari India. kejadian ini dijadikan oleh Airlangga sebagai
waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri menaklukkan Pulau Jawa.
Sejak
tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan
melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun
kekuatan untuk
KISAH KERAJAAN KEDIRI I / V
Airlangga atau
yang lebih dikenal dengan nama Erlangga (Bali, 990 - Belahan, 1049) merupakan keturunan
raja dari kerajaan mataram dari dinasti
Isyana yang kemudian menjadi pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah
1009-1042. Dapat dikatakan keturunan dari dinasti Isana karena Raja Airlangga
adalah anak dari cucu mpu Sindok yakni Mahendradatta.
Nama
Airlangga berarti "Air yang memancar". Ia lahir tahun 990. Ayahnya
bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama
Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Waktu itu
Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali,
mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.
Kerajaan Singosari
Kerajaan Singosari (1222-1293), adalah sebuah kerajaan di
Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini
sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.
Kerajaan Singosari adalah salah satu kerajaan besar di
Nusantara vang didirikan oleh Ken Arok pada 1222. Sejarah Kerajaan Singasari
berawal dari Kerajaan Tumapel, yang dikuasai oleh seorang akuwu (bupati).
Letaknya di daerah pegunungan yang subur di wilayah Malang dengan pelabuhannya
bernama Pasuruan. Dari daerah inilah Kerajaan Singosari berkembang dan bahkan
menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur, terutama setelah berhasil
mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di dekat Ganter tahun 1222 M.
Kerajaan Singosari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja
Kertanegara (1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama
Dharmottunggadewa.
Ibu Kota
Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singosari
yang sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama, ketika
pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja.
Pada tahun 1253, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang
bernama Kertanagara sebagai yuwaraja dan mengganti nama ibu kota menjadi Singosari.
Nama Singosari yang merupakan nama ibu kota kemudian justru lebih terkenal
daripada nama Tumapel. Maka, Kerajaan Tumapel pun terkenal pula dengan nama
Kerajaan Singosari.
Nama Tumapel juga muncul dalam kronik Cina dari Dinasti Yuan
dengan ejaan Tu-ma-pan.
Awal Berdiri
Menurut kitab Pararaton Tumapel semula hanya sebuah daerah
bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel
saat itu adalah Tunggul Ametung. Ia mati dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh
pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru Ken
Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin
oleh Tunggul Ametung, pada 1222. Ia membunuh Tunggul Ametung karena jatuh cinta
pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengawini Ken Dedes. Ken Arok
kemudian berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri. Pada saat dikawini
Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama Anusapati yang kemudian menjadi
raja Singosari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan Singosari adalah
Kertanegara.
![]() |
| Arca Ken Dedes |
Pada tahun 1254 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja
Kadiri melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken
Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel. Perang melawan
Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.
Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk
pendirian Kerajaan Tumapel, namun tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam
naskah itu, pendiri kerajaan Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra
yang berhasil mengalahkan Kertajaya raja Kadiri.
Prasasti Mula Malurung atas nama Kertanagara tahun 1255,
menyebutkan kalau pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa. Mungkin nama
ini adalah gelar anumerta dari Ranggah Rajasa, karena dalam Nagarakretagama
arwah pendiri kerajaan Tumapel tersebut dipuja sebagai Siwa. Selain itu,
Pararaton juga menyebutkan bahwa, sebelum maju perang melawan Kadiri, Ken Arok
lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Siwa.
Ken Arok sebagai raja pertama Kerajaan Singasari bergelar
Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi dan dinastinya bernama Dinasti
Girindrawangsa (Dinasti Keturunan Siwa). Pendirian dinasti ini bertujuan
menghilangkan jejak tentang siapa sebenarnya Ken Arok dan mengapa ia berhasil
mendirikan kerajaan. Di samping itu, agar keturunan-keturunan Ken Arok (bila
suatu saat menjadi raja besar) tidak ternoda oleh perilaku dan tindakan
kejahatan yang pemah dilakukan oleh Ken Arok. Raja Ken Arok memerintah pada
tahun 1222-1227 M. Masa pemerintahan Ken Arok diakhiri secara tragis, saat ia
dibunuh oleh kaki tangan Anusapati, yang merupakan anak tirinya (anak Ken Dedes
dengan suami pertamanya Tunggul Ametung).
Raja Anusapati Dengan meninggalnya Ken Arok, tahta Kerajaan
Singasari langsung dipegang oleh Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahan
yang cukup lama itu (1227-1248 M), Anusapati tidak melakukan
pembaruan-pembaruan, karena Anusapati larut dengan kegemarannya sendiri, yaitu
menyabung ayam.
Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai
kepada putra Ken Arok dengan Ken Umang yang bernama Tohjaya. Tohjaya mengetahui
bahwa Anusapati suka menyabung ayam, karena itu Anusapati diundang untuk
menyabung ayam di Gedong Jiwa (tempat kediaman Tohjaya). Saat Anusapati sedang asyik
melihat aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjaya mencabut keris Empu Gandring
yang dibawa Anusapati dan langsung menusukkan ke punggung Anusapati hingga ia
meninggal.
Raja Tohjaya Dengan meninggalnya Anusapati, tahta kerajaan
dipegang oleh Tohjaya. Tohjaya memerintah Kerajaan Singasari hanya beberapa
bulan saja (1248 M), karena putra Anusapati yang bernama Ranggawuni mengetahui
perihal kematian Anusapati. Ranggawuni yang dibantu oleh Mahesa Cempaka
menuntut hak atas tahta kerajaan kepada Tohjaya. Tetapi Tohjaya mengirim
pasukannya untuk menangkap Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Rencana Tohjaya telah
diketahui oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, sehingga keduanya melarikan diri
sebelum pasukan Tohjaya menangkap mereka.
Untuk menyelidiki persembunyian Ranggawuni dan Mahesa
Cempaka, Tohjaya mengirim pasukan di bawah pimpinan Lembu Ampal. Namun, Lembu
Ampal akhirnya menyadari bahwa yang berhak atas tahta kerajaan ternyata Ranggawuni,
maka ia berbalik memihak Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni yang dibantu
Mahesa Cempaka dan Lembu Ampal berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan
Tohjaya. Selanjutnya Ranggawuni menduduki tahta Kerajaan Singasari.
Raja Wisnuwardhana Ranggawuni naik tahta atas Kerajaan
Singasari dengan gelar Sri JayaWisnuwardhana dibantu oleh Mahesa Cempaka dengan
gelar Narasinghamurti. Mereka memerintah bersama Kerajaan Singasari (1248-1268
M). Wisnuwardhana sebagai raja, Narasinghamurti sebagai Ratu Angabhaya.
Pemerintahan kedua penguasa tersebut membawa keamanan dan kesejahteraan. Pada
tahun 1254 M, Wisnuwardhana mengangkat putranya sebagai Yuvaraja (raja muda)
dengan maksud untuk mempersiapkan putranya yang bernama Kertanegara menjadi
seorang raja besar di Kerajaan Singasari. Setelah Wisnuwardhana meninggal dunia
(dialah satu-satunya raja yang meninggal tidak terbunuh di Kerajaan Singasari),
tahta Kerajaan Singasari beralih kepada Kertanegara.
Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai
pertumpahan darah yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati
(anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir).
Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni
yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai. Sementara itu versi
Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan antara raja pengganti
terhadap raja sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena Nagarakretagama adalah
kitab pujian untuk Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa berdarah yang menimpa
leluhur Hayam Wuruk tersebut dianggap sebagai aib.
Di antara para raja di atas hanya Wisnuwardhana dan
Kertanagara saja yang didapati menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan
mereka. Dalam Prasasti Mula Malurung (yang dikeluarkan Kertanagara atas
perintah Wisnuwardhana) ternyata menyebut Tohjaya sebagai raja Kadiri, bukan
raja Tumapel. Hal ini memperkuat kebenaran berita dalam Nagarakretagama.
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanagara tahun 1255 selaku raja bawahan
di Kadiri. Dengan demikian, pemberitaan kalau Kertanagara naik takhta tahun
1254 dapat diperdebatkan. Kemungkinannya adalah bahwa Kertanagara menjadi raja
muda di Kadiri dahulu, baru pada tahun 1268 ia bertakhta di Singosari.
Raja Kertanegara Raja Kertanegara (1268-1292 M) merupakan raja
terkemuka dan raja terakhir dari Kerajaan Singasari. Di bawah pemerintahannya,
Kerajaan Singasari mencapai masa kejayaannya. Stabilitas kerajaan yang
diwujudkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana disempurnakan lagi dengan
tindakan-tindakan yang tegas dan berani. Setelah keadaaan Jawa Timur dianggap
baik, Raja Kertanegara melangkah ke luar Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita
persatuan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari.
Mandala Amoghapāśa dari masa Singosari (abad ke-13),
perunggu, 22.5 x 14 cm. Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem,
Jerman.
Penemuan prasasti Mula Malurung memberikan pandangan lain
yang berbeda dengan versi Pararaton yang selama ini dikenal mengenai sejarah
Tumapel.
Kerajaan Tumapel disebutkan didirikan oleh Rajasa yang
dijuluki "Bhatara Siwa", setelah menaklukkan Kadiri. Sepeninggalnya,
kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel dipimpin Anusapati sedangkan Kadiri
dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng). Parameswara
digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu, Anusapati
digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung
juga menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel dan Kadiri
dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kadiri kemudian menjadi kerajaan bawahan
yang dipimpin oleh putranya, yaitu Kertanagara.
Pararaton dan
Nagarakretagama menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara
Wisnuwardhana dan Narasingamurti. Dalam Pararaton disebutkan nama asli
Narasingamurti adalah Mahisa Campaka.
Apabila kisah kudeta berdarah dalam Pararaton benar-benar
terjadi, maka dapat dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu
upaya rekonsiliasi antara kedua kelompok yang bersaing. Wisnuwardhana merupakan
cucu Tunggul Ametung sedangkan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.
Kejayaan
Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam
sejarah Singhasari (1272 - 1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan
wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu
untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi
bangsa Mongol. Saat itu penguasa Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya
(kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya dianggap telah
ditundukkan, dengan dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari Kertanagara,
sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi
menaklukkan Bali. Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke
Singhasari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu
ditolak tegas oleh Kertanagara. Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah
bawahan Singhasari di luar Jawa pada masa Kertanagara antara lain, Melayu,
Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.
Keruntuhan
Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan
Kertanegara, raja terakhir Singhasari.
Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan
perangnya ke luar Jawa akhirnya mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun
1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelanggelang, yang merupakan
sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Kertanagara sendiri. Dalam
serangan itu Kertanagara mati terbunuh.
Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja dan
membangun ibu kota baru di Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun
berakhir.
Hubungan Dengan
Majapahit
Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti Kudadu mengisahkan
Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari
maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian
diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit.
Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese
untuk menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan
Jayakatwang di Kadiri. Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik
ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa.
Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai
kelanjutan Singhasari, dan menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa,
yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.
KRAKATAU LEGEND
Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir
penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya.
Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi
sampai 40 meter…Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di
kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi,
penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari – gelap
gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung
Krakatau di Selat Sunda.
Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di
dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di
seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of
North Dakota, Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunungapi di
seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau
1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dua-duanya ada di Indonesia, tak
jauh dari kita. Semoga kita, bangsa Indonesia – terlebih yang menamakan dirinya
geologist, mengenal dengan baik dua gunungapi ini.
Tetapi, banyak
dokumen menunjukkan bahwa Krakatau 1883 bukanlah satu-satunya letusan
dahsyatnya. Sebelumnya, masih di Krakatau juga, ada letusannya yang
kelihatannya jauh lebih dahsyat lagi daripada letusan 1883, yang terjadi pada
masa sejarah, pada masa kerajaan- kerajaan Hindu pertama di Indonesia tahun
400-an atau 500-an AD (Anno Domini, Masehi). Tentu saja letusan ini tak banyak
ditulis apalagi difilmkan sebab pengetahuan kita tentangnya masih samar-samar,
walaupun nyata. Adalah B.G. Escher (1919, 1948) yang berdasarkan
penyelidikannya dan penyelidikan Verbeek (1885) – dua-duanya adalah ahli
geologi Belanda yang lama bekerja di Indonesia – yang menyusun sejarah letusan
Krakatau sejak zaman sejarah – moderen.
Saat ini, di Selat
Sunda ada Gunung Anak Krakatau (lahir Desember 1927, 44 tahun setelah letusan Krakatau 1883
terjadi), yang dikelilingi tiga pulau : Sertung (Verlaten Eiland, Escher 1919),
Rakata Kecil (Lang Eiland, Escher, 1919) dan Rakata. Berdasarkan penelitian
geologi, ketiga pulau ini adalah tepi-tepi kawah/kaldera hasil letusan Gunung
Krakatau (Purba, 400-an/500-an AD). Escher kemudian melakukan rekonstruksi
berdasarkan penelitian geologi batuan2 di ketiga pulau itu dan karakteristik letusan Krakatau 1883, maka
keluarlah evolusi erupsi Krakatau yang menakjubkan (skema evolusi Krakatau dari
Escher ini bisa dilihat di buku van Bemmelen, 1949, 1972, atau di semua buku
moderen tentang Krakatau).
B.G. Escher berkisah,
dulu ada sebuah gunungapi besar di tengah Selat Sunda, kita namakan saja
KRAKATAU PURBA yang disusun oleh batuan andesitik. Lalu, gunung api ini meletus
hebat dan membuat kawah yang besar di
Selat Sunda yang tepi-tepinya menjadi pulau Sertung, Rakata Kecil dan Rakata.
Lalu sebuah kerucut gunungapi tumbuh berasal dari pinggir kawah dari pulau
Rakata, sebut saja gunungapi Rakata, terbuat dari batuan basaltik. Kemudian,
dua gunungapi muncul di tengah kawah, bernama gunungapi Danan dan gunungapi
Perbuwatan. Kedua gunung api ini kemudian menyatu dengan gunung api di Rakata
yang muncul terlebih dahulu.
Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut KRAKATAU. Tahun 1680, gunung Krakatau
meletus 3 batuapung dan abu
volkanik. Gunungapi Danan dan Perbuwatan hilang karena erupsi dan runtuh, dan
setengah kerucut gunung api Rakata hilang karena runtuh, membuat cekungan
kaldera selebar 7 km sedalam 250 meter. Desember 1927, ANAK KRAKATAU muncul di
tengah- tengah kaldera.
menghasilkan lava andesitik asam. Tanggal 20 Mei 1883, setelah 200
tahun tertidur, sebuah erupsi besar terjadi, dan terus-menerus sampai puncak
erupsi terjadi antara 26-28 Agustus 1883 (Inilah letusan Krakatau 1883 yang
terkenal itu). Erupsi ini telah melemparkan 18 km
Seberapa besar dan
kapan erupsi KRAKATAU PURBA terjadi ? . Tulisan2 yang berhasil dikumpulkan
(buku2 dan paper2 lepas) menunjuk ke dua angka tahun : 416 AD atau 535 AD.
Angka 416 AD adalah berasal dari sebuah teks Jawa kuno berjudul ”Pustaka Raja
Purwa” yang bila diterjemahkan bertuliskan : ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada
goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu
datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan
seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke
timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah
menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra” . Di tempat lain, seorang bishop
Siria, John dari Efesus, menulis sebuah chronicle di antara tahun 535 – 536 AD,
“ Ada tanda-tanda dari Matahari, tanda-
tanda yang belum pernah dilihat atau dilaporkan sebelumnya. Matahari menjadi
gelap, dan kegelapannya berlangsung sampai 18 bulan. Setiap harinya hanya
terlihat selama empat jam, itu pun samar-samar. Setiap orang mengatakan bahwa
Matahari tak akan pernah mendapatkan terangnya lagi” . Dokumen di Dinasti
Cina mencatat : ”suara guntur yang sangat
keras terdengar ribuan mil jauhnya ke baratdaya Cina”. (Semua kutipan
diambil dari buku Keys, 1999 : Catastrophe : A Quest for the Origins of the
Modern Worls, Ballentine Books, New York).
Itu catatan2 dokumen
sejarah yang bisa benar atau diragukan. Tetapi, penelitian selanjutnya menemukan
banyak jejak-jejak ion belerang yang berasal dari asam belerang volkanik di
temukan di contoh- contoh batuan inti (core) di lapisan es Antarktika dan
Greenland, ketika ditera umurnya : 535-540 AD. Jejak2 belerang volkanik
tersebar ke kedua belahan Bumi : selatan dan utara. Dari mana lagi kalau bukan berasal dari
sebuah gunungapi di wilayah Equator ? semua data menunjuk ke satu titik di
Selat Sunda : Krakatau !. Adalah sebuah
letusan KRAKATAU PURBA penyebab semua itu.
Letusan KRAKATAU
PURBA begitu dahsyat, sehingga dituduh sebagai penyebab semua abad kegelapan di dunia. Penyakit
sampar Bubonic (Bubonic plague) terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini
secara signifikan telah mengurangi jumlah penduduk di seluruh dunia. Kota-kota
super dunia segera berakhir, abad kejayaan Persia purba berakhir, transmutasi
Kerajaan Romawi ke Kerajaan Bizantium terjadi, peradaban South Arabian selesai,
berakhirnya rival Katolik terbesar (Arian Crhistianity), runtuhnya peradaban2
purba di Dunia baru – berakhirnya negara metropolis Teotihuacan, punahnya kota
besar Maya Tikal, dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh
teka-teki. Kata Keys (1999), semua
peristiwa abad kegelapan dunia ini terjadi karena bencana alam yang mahabesar,
yang sangat mengurangi cahaya dan panas Matahari selama 18 bulan, menyebabkan
iklim global mendingin.
K. Wohletz, seorang
ahli volkanologi di Los Alamos National Laboratory, mendukung penelitian David
Keys, melalui serangkaian simulasi erupsi KRAKATAU PURBA yang terjadi pada abad
keenam Masehi tersebut. Artikelnya (Wohletz, 2000 : Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Changes in the
Sixth Century ? – If So, Was Krakatau Volcano the Culprit ? EOS Trans American
Geophys Union 48/81, F1305) menunjukkan simulasi betapa dahsyatnya erupsi
ini. Inilah beberapa petikannya. Erupsi sebesar itu telah melontarkan 200 km3
magma (bandingkan dengan Krakatau 1883 yang 3), membuat kawah
40-60 km, letusan hebat terjadi selama 34 jam, tetapi terus terjadi selama 10
hari dengan mass discharge 1 miliar kg/detik. Eruption plume telah membentuk
perisai di atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur 5-10 derajat
selama 10-20 tahun.
![]() |
| salah satu dampak ledakan krakatau |
Begitulah, Escher dan
Verbeek menyelidiki ada erupsi Krakatau Purba;
dokumen2 sejarah dari Indonesia (Pustaka Raja), Siria, dan Cina mencatat
sebuah bencana yang sangat dahsyat terjadi di abad 5 atau 6 Masehi; ice cores
di Antarktika dan Greenland mencatat jejak-jejak ion sulfate volkanik dengan
umur 535-540 AD, peristiwa2 Abad Kegelapan di seluruh dunia terjadi pada abad
ke-6, dan simulasi volkanologi erupsi Krakatau Purba : semuanya kelihatannya
bisa saling mendukung.
KERAJAAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya merupakan kemaharajaan maritim yang terkuat di pulau Sumatera dan termasuk salah satu kerajaan yang berpengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. Dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" atau "gemilang", dan wijaya berarti "kemenangan" atau "kejayaan", maka nama Sriwijaya bermakna "kemenangan yang gilang-gemilang". Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682. Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan di antaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh dari Jawa pada tahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.
Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.
Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah perahu kuno yang diperkirakan ada sejak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sayang, kepala perahu kuno itu sudah hilang dan sebagian papan perahu itu digunakan justru buat jembatan. Tercatat ada 17 keping perahu yang terdiri dari bagian lunas, 14 papan perahu yang terdiri dari bagian badan dan bagian buritan untuk menempatkan kemudi. Perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang menggunakan tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang berhubungan dengan temuan perahu, seperti tembikar, keramik, dan alat kayu.
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.
Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didasarkan dari foto udara tahun 1984 yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi yang dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektar. Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktifitas manusia. Namun sebelumnya Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan Malayu tidak di kawasan tersebut, jika Malayu pada kawasan tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang), dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing,[ serta hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). Namun yang pasti pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).
Pembentukan dan pertumbuhan
Candi Muara Takus, salah satu kawasan yang dianggap sebagai ibukota Sriwijaya.
Candi Gumpung, candi Buddha di Muaro Jambi, Kerajaan Melayu yang ditaklukkan Sriwijaya.
Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan.
Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara bahari, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.
Urutan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Tahun 671 M - I Ching singgah di Sriwijaya
tahun 671 adalah tahun awal yang membutikan adanya Kerajaan Sriwijaya. bukti ini di dapat dari seorang Bhiksu Buddha Tiongkok yang bernama I Ching yang sedang berkelana lewat laut menuju india untuk mendapatkan teks agama buddha dalam bahasa sangsekerta melalui Jalur Sutra atau jalur perdagangan untuk kemudian di bawa ke tiongkok dan di terjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. semasa perjalanan nya ini lah
Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.
Selain berita-berita diatas tersebut, telah ditemukan oleh Balai Arkeologi Palembang sebuah perahu kuno yang diperkirakan ada sejak masa awal atau proto Kerajaan Sriwijaya di Desa Sungai Pasir, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sayang, kepala perahu kuno itu sudah hilang dan sebagian papan perahu itu digunakan justru buat jembatan. Tercatat ada 17 keping perahu yang terdiri dari bagian lunas, 14 papan perahu yang terdiri dari bagian badan dan bagian buritan untuk menempatkan kemudi. Perahu ini dibuat dengan teknik pasak kayu dan papan ikat yang menggunakan tali ijuk. Cara ini sendiri dikenal dengan sebutan teknik tradisi Asia Tenggara. Selain bangkai perahu, ditemukan juga sejumlah artefak-artefak lain yang berhubungan dengan temuan perahu, seperti tembikar, keramik, dan alat kayu.
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya 3 pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya.Sekitar tahun 1993, Pierre-Yves Manguin melakukan observasi dan berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang kini dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya. Pendapat ini didasarkan dari foto udara tahun 1984 yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi yang dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektar. Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktifitas manusia. Namun sebelumnya Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan Malayu tidak di kawasan tersebut, jika Malayu pada kawasan tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya juga telah berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang), dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing,[ serta hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). Namun yang pasti pada masa penaklukan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).
Pembentukan dan pertumbuhan
Candi Muara Takus, salah satu kawasan yang dianggap sebagai ibukota Sriwijaya.
Candi Gumpung, candi Buddha di Muaro Jambi, Kerajaan Melayu yang ditaklukkan Sriwijaya.
Reruntuhan Wat (Candi) Kaew yang berasal dari zaman Sriwijaya di Chaiya, Thailand Selatan.
Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara bahari, namun kerajaan ini tidak memperluas kekuasaannya di luar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Beberapa ahli masih memperdebatkan kawasan yang menjadi pusat pemerintahan Sriwijaya, selain itu kemungkinan kerajaan ini biasa memindahkan pusat pemerintahannya, namun kawasan yang menjadi ibukota tetap diperintah secara langsung oleh penguasa, sedangkan daerah pendukungnya diperintah oleh datu setempat.
Urutan Sejarah Kerajaan Sriwijaya
Tahun 671 M - I Ching singgah di Sriwijaya
tahun 671 adalah tahun awal yang membutikan adanya Kerajaan Sriwijaya. bukti ini di dapat dari seorang Bhiksu Buddha Tiongkok yang bernama I Ching yang sedang berkelana lewat laut menuju india untuk mendapatkan teks agama buddha dalam bahasa sangsekerta melalui Jalur Sutra atau jalur perdagangan untuk kemudian di bawa ke tiongkok dan di terjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa. semasa perjalanan nya ini lah
The Great Majapahit
LAHIRNYA MAJAPAHIT
Majapahit adalah Kerajaan yang terakhir dan sekaligus yang terbesar di antara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Didahului oleh kerajaan Sriwijaya, yang beribukotakan Palembang di pulau Sumatra. Kerajaan ini dirintis oleh Raden Wijaya yang merupakan keturunan keempat dari Ken Arok dan Ken Dedes.
Sebelum kerajaan Majapahit lahir, telah berdiri terlebih dahulu pada tahun 1222 Masehi kerajaan Singosari yang pendirinya adalah Ken Arok yang berpusat di. Malang (Tumapel).
Penelusuran terhadap lahirnya kerajaan Majapahit tidak terlepas dari keberadaan kerajaan Singosari Tumapel. Begitupun kalau kita menelusuri awal bersatunya nusantara, tidak bisa terlepas dari kiprah Majapahit. Artinya keberadaan Singosari, Majapahit, dan Nusantara adalah sesuatu yang bersifat integral dan tidak terpisahkan satu sama lain.
Dalam sejarah bangsa Indonesia Majapahit memanglah ‘hanya’ satu di antara banyak kerajaan yang pernah berkembang di dalam tubuh bangsa persatuan yang kini disebut “Indonesia” ini. Walaupun demikian sejarahnya patut disimak dengan cermat karena kelebihannya: cakupan teritorialnya yang paling ekstensif, durasinya yang cukup panjang, serta pancapaian-pencapaian budayanya yang cukup bermakna.
Diawali dengan rintisan di masa Singhasari, yaitu masa Pra Majapahit yang mempunyai kesinambungan dinastik dengan masa Majapahit, Perluasan wilayah dilanjutkan dengan mencakup daerah-daerah yang lebih luas. Pada masa Singhasari negara-negara yang disatukan di bawah koordinasi kewenangan Singhasari adalah: Madhura, Lamajang, Kadiri, Wurawan, Morono, Hring, dan Lwa, semua mengacu pada daerah-daerah di pulau Jawa (timur ) dan Madura.
Untuk lebih jelasnya sebelum mengerti sejarah Majapahit akan diuraikan terlebih dahulu sejarah berdirinya kerajaan Singhasari yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Sejarah berdirinya Majapahit dimulai dari Perintah dari Raja Singhasari yaitu Kertanagara yang memerintahkan Raden Wijaya untuk menghalau serangan tentara Kadiri di desa Memeling. Raden Wijaya di desa Mameling berhasil menumpas musuh.
Dengan puas tentara Singosari kembali menuju ibukota, Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di perbatasan sorak sorai tentara musuh yang telah berhasil merusak keraton Singhasari. Raja Śri Kĕrtānegara gugur, kerajaan Singhasāri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Raden Wijaya berusaha menyelamatkan apa yang masih mungkin bisa diselamatkan, mereka dengan gagah berani menyerbu kedalam istana, namun karena jumlah tentara kediri yang begitu banyak maka usaha tersebut tidak berhasil.
Raden Wijaya kemudian dikepung oleh patih Daha Kebo Mundarang sehingga akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Raden wijaya dengan pengikutnya Lembu Sora, Gajah Pagon, Medang Dangli, Malusa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kepetengan, Wirota Wiragati dan Pamandana lari melintasi sawah yang baru habis dibajak. Ketika hampir tertangkap oleh Patih Mundarang, Raden Wijaya memancal tanah bajakan sehingga jatuh didada dan dahi ki Patih ,Raden Wijaya pun berhasil lolos dari kejaran musuh.
Setelah beristirahat sejenak Raden Wijaya kemudian membagi-bagikan celana gringsing kepada pengikut-pengikutnya tiap orang sehelai dan diperintahkan ngamuk, Pada waktu menjelang malam ketika tentara Kediri sedang berpesta pora Raden Wijaya dan para pengikutnya kembali lagi masuk kedalam keraton Singhasari.
Putri Kertanegara yang bungsu yaitu Gayatri ditawan oleh muduh dan dibawa ke Kediri sedangkan putri yang sulung yaitu Tribuaneswari berhasil diselamatkan oleh Raden Wijaya. Atas nasehat Lembu Sora, Raden Wijaya bersama Putri dan para pengikutnya kemudian mundur ke luar kota menuju arah utara karena tidak
![]() |
| Ilustrasi kondisi Majapahit |
Sebelum kerajaan Majapahit lahir, telah berdiri terlebih dahulu pada tahun 1222 Masehi kerajaan Singosari yang pendirinya adalah Ken Arok yang berpusat di. Malang (Tumapel).
Penelusuran terhadap lahirnya kerajaan Majapahit tidak terlepas dari keberadaan kerajaan Singosari Tumapel. Begitupun kalau kita menelusuri awal bersatunya nusantara, tidak bisa terlepas dari kiprah Majapahit. Artinya keberadaan Singosari, Majapahit, dan Nusantara adalah sesuatu yang bersifat integral dan tidak terpisahkan satu sama lain.
Dalam sejarah bangsa Indonesia Majapahit memanglah ‘hanya’ satu di antara banyak kerajaan yang pernah berkembang di dalam tubuh bangsa persatuan yang kini disebut “Indonesia” ini. Walaupun demikian sejarahnya patut disimak dengan cermat karena kelebihannya: cakupan teritorialnya yang paling ekstensif, durasinya yang cukup panjang, serta pancapaian-pencapaian budayanya yang cukup bermakna.
Diawali dengan rintisan di masa Singhasari, yaitu masa Pra Majapahit yang mempunyai kesinambungan dinastik dengan masa Majapahit, Perluasan wilayah dilanjutkan dengan mencakup daerah-daerah yang lebih luas. Pada masa Singhasari negara-negara yang disatukan di bawah koordinasi kewenangan Singhasari adalah: Madhura, Lamajang, Kadiri, Wurawan, Morono, Hring, dan Lwa, semua mengacu pada daerah-daerah di pulau Jawa (timur ) dan Madura.
Untuk lebih jelasnya sebelum mengerti sejarah Majapahit akan diuraikan terlebih dahulu sejarah berdirinya kerajaan Singhasari yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Sejarah berdirinya Majapahit dimulai dari Perintah dari Raja Singhasari yaitu Kertanagara yang memerintahkan Raden Wijaya untuk menghalau serangan tentara Kadiri di desa Memeling. Raden Wijaya di desa Mameling berhasil menumpas musuh.
Dengan puas tentara Singosari kembali menuju ibukota, Betapa terkejutnya mereka ketika sampai di perbatasan sorak sorai tentara musuh yang telah berhasil merusak keraton Singhasari. Raja Śri Kĕrtānegara gugur, kerajaan Singhasāri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Raden Wijaya berusaha menyelamatkan apa yang masih mungkin bisa diselamatkan, mereka dengan gagah berani menyerbu kedalam istana, namun karena jumlah tentara kediri yang begitu banyak maka usaha tersebut tidak berhasil.
Raden Wijaya kemudian dikepung oleh patih Daha Kebo Mundarang sehingga akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Raden wijaya dengan pengikutnya Lembu Sora, Gajah Pagon, Medang Dangli, Malusa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kepetengan, Wirota Wiragati dan Pamandana lari melintasi sawah yang baru habis dibajak. Ketika hampir tertangkap oleh Patih Mundarang, Raden Wijaya memancal tanah bajakan sehingga jatuh didada dan dahi ki Patih ,Raden Wijaya pun berhasil lolos dari kejaran musuh.
Setelah beristirahat sejenak Raden Wijaya kemudian membagi-bagikan celana gringsing kepada pengikut-pengikutnya tiap orang sehelai dan diperintahkan ngamuk, Pada waktu menjelang malam ketika tentara Kediri sedang berpesta pora Raden Wijaya dan para pengikutnya kembali lagi masuk kedalam keraton Singhasari.
Putri Kertanegara yang bungsu yaitu Gayatri ditawan oleh muduh dan dibawa ke Kediri sedangkan putri yang sulung yaitu Tribuaneswari berhasil diselamatkan oleh Raden Wijaya. Atas nasehat Lembu Sora, Raden Wijaya bersama Putri dan para pengikutnya kemudian mundur ke luar kota menuju arah utara karena tidak
SEJARAH KERAJAAN BEDAHULU / BEDULU, BALI
Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng (baca: pèjèng) atauBedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-rajaketurunan Dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu)menentang ekspansi Kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh GajahMada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar- benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasildikalahkan tahun 1347.Sejarah Berdirinya Kerajaan BedahuluPada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau diganti olehanaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman digantiAswawarman. Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara.Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tamamendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.
Raja-raja Bedahulu
1. Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa - (882-913)
2. Sri Ugrasena - (915-939)
3. Agni
4. Tabanendra Warmadewa
5. Candrabhaya Singa Warmadewa - (960-975)
6. Janasadhu Warmadewa
7. Sri Wijayamahadewi
8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) - (988-1011)
9. Gunapriya Darmapatni (bersama Udayana) - (989-1001)
10. Sri Ajnadewi
11. Sri Marakata - (1022-1025)
12. Anak Wungsu - (1049-1077)
13. Sri Maharaja Sri Walaprabu - (1079-1088)
14. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana - (1088-1098)
15. Sri Suradhipa - (1115-1119)
16. Sri Jayasakti - (1133-1150)
17. Ragajaya
18. Sri Maharaja Aji Jayapangus - (1178-1181)
19. Arjayadengjayaketana20. Aji Ekajayalancana
21. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana
22. Parameswara
23. Adidewalancana
24. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa
25. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?)
26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) - (1332-1343)
27. Dalem Tokawa (1343-1345)
28. Dalem Makambika (1345-1347)
29. DalemMadura
Sri Kesari Warmadewa diganti Cabdrabhaya Singha Warmadewa, diganti WijayaMahadewi, diganti Udayana menurunkan dua putra :
1. Airlangga
2. Anak Wungsu
Airlangga pergi ke Jawa kemudian menurunkan :
1. Sridewi Kili Endang Suc
2. Sri Jayabaya
3. Sri Jayasabha
4. Sira Arya Buru
Sri Jayabhaya bertahta di Kediri, menurunkan :
1. Sri Aji Dangdang Gendis
2. Sri Siwa Wandira
3. Sri Jaya Kesuma
Sri Jayasabha bertahta di Jenggala, berputra :Sira Aryeng Kediri
Sri Aji Dangdang Gendis menurunkan :Sri Aji Jaya Katong, menjadi leluhur warga Arya Gajah Para, Arya Getas, AryaKanuruhan, dll.
Sri Siwa Wandira menurunkan Sri Jaya Waringin, menjadi leluhur wargaArya Kubon Tubuh, Arya Parembu, dll.
Sri Jaya Kesuma menurunkan Sri Wira Kusuma, kemudian masuk Islam bergelar Raden Patah
Sira Aryeng Kediri menurunkan SiraAryeng Kepakisan selanjutnya menurunkan Pangeran Nyuh Aya dan Pangeran Asak. Kedua beliau menjadi leluhur warga Arya Kepakisan, Arya Dauh Bale Agung, Kiyainginte, dll.
Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324-1328 M. Maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Patapan Langgahan tahun 1337 M. Selain itu ada pula sebuah patung yang disimpan di Pura Tegeh Koripan termasuk DesaKintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaannya.
PEMERINTAHAN SRI ASTASURA RATNA BUMI BANTEN
Dikisahkan pada tahun 1337 raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten / Sri GajahWaktera / Sri Topolung mulai berkuasa di Pulau Bali, beliau sangat bijaksana serta adildalam mengendalikan pemerintahan dan taat dalam melaksanakan upacara keagamaan., beliau terkenal sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. dalam pemerintahannya beliau mengadakan pergantian sejumlah pejabat pemerintahan antara lain :
- Kesenepatian Kuturan yang dijabat Ki Dalang Camok diganti oleh Ki Mabasa Sinom- Kesenepatian Danda yang dijabat Ki Kuda Langkat
-Langkat diganti oleh Ki Bima Sakti
- Dibentuk kesenepatian baru yaitu Kesenepatian manyiringin di pegang oleh Ki LembuLateng.
- Perutusan Siwa rajamanggala yang dulu tinggal di Dewastana kini digeser ke Kunjarasana.
- Perutusan Pendeta Siwa Sewaratna yang dulu tinggal di Trinayana kini dipindahkan keDharmahanyar.
- Dang Upadyaya Pujayanta yang dijabat Pendeta di Biharanasi diganti oleh PendetaDang Upadyaya Dharma.
- Dibentuk pejabat Makarun di Hyang Karamus yang dipagang oleh Ki PanjiSukaningrat.
- Dibentuk 2 buah perutusan yaitu di Burwan yang dipegang oleh Sira Mahaguru dan di Buhara Bahung yang dipegang oleh Dang Upadyaya Kangka.
Beliau mengangkat seorang Mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis,yang tinggal di desa
Raja-raja Bedahulu
1. Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa - (882-913)
2. Sri Ugrasena - (915-939)
3. Agni
4. Tabanendra Warmadewa
5. Candrabhaya Singa Warmadewa - (960-975)
6. Janasadhu Warmadewa
7. Sri Wijayamahadewi
8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) - (988-1011)
9. Gunapriya Darmapatni (bersama Udayana) - (989-1001)
10. Sri Ajnadewi
11. Sri Marakata - (1022-1025)
12. Anak Wungsu - (1049-1077)
13. Sri Maharaja Sri Walaprabu - (1079-1088)
14. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana - (1088-1098)
15. Sri Suradhipa - (1115-1119)
16. Sri Jayasakti - (1133-1150)
17. Ragajaya
18. Sri Maharaja Aji Jayapangus - (1178-1181)
19. Arjayadengjayaketana20. Aji Ekajayalancana
21. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana
22. Parameswara
23. Adidewalancana
24. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa
25. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?)
26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) - (1332-1343)
27. Dalem Tokawa (1343-1345)
28. Dalem Makambika (1345-1347)
29. DalemMadura
Sri Kesari Warmadewa diganti Cabdrabhaya Singha Warmadewa, diganti WijayaMahadewi, diganti Udayana menurunkan dua putra :
1. Airlangga
2. Anak Wungsu
Airlangga pergi ke Jawa kemudian menurunkan :
1. Sridewi Kili Endang Suc
2. Sri Jayabaya
3. Sri Jayasabha
4. Sira Arya Buru
Sri Jayabhaya bertahta di Kediri, menurunkan :
1. Sri Aji Dangdang Gendis
2. Sri Siwa Wandira
3. Sri Jaya Kesuma
Sri Jayasabha bertahta di Jenggala, berputra :Sira Aryeng Kediri
Sri Aji Dangdang Gendis menurunkan :Sri Aji Jaya Katong, menjadi leluhur warga Arya Gajah Para, Arya Getas, AryaKanuruhan, dll.
Sri Siwa Wandira menurunkan Sri Jaya Waringin, menjadi leluhur wargaArya Kubon Tubuh, Arya Parembu, dll.
Sri Jaya Kesuma menurunkan Sri Wira Kusuma, kemudian masuk Islam bergelar Raden Patah
Sira Aryeng Kediri menurunkan SiraAryeng Kepakisan selanjutnya menurunkan Pangeran Nyuh Aya dan Pangeran Asak. Kedua beliau menjadi leluhur warga Arya Kepakisan, Arya Dauh Bale Agung, Kiyainginte, dll.
Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324-1328 M. Maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Patapan Langgahan tahun 1337 M. Selain itu ada pula sebuah patung yang disimpan di Pura Tegeh Koripan termasuk DesaKintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaannya.
PEMERINTAHAN SRI ASTASURA RATNA BUMI BANTEN
Dikisahkan pada tahun 1337 raja Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten / Sri GajahWaktera / Sri Topolung mulai berkuasa di Pulau Bali, beliau sangat bijaksana serta adildalam mengendalikan pemerintahan dan taat dalam melaksanakan upacara keagamaan., beliau terkenal sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. dalam pemerintahannya beliau mengadakan pergantian sejumlah pejabat pemerintahan antara lain :
- Kesenepatian Kuturan yang dijabat Ki Dalang Camok diganti oleh Ki Mabasa Sinom- Kesenepatian Danda yang dijabat Ki Kuda Langkat
-Langkat diganti oleh Ki Bima Sakti
- Dibentuk kesenepatian baru yaitu Kesenepatian manyiringin di pegang oleh Ki LembuLateng.
- Perutusan Siwa rajamanggala yang dulu tinggal di Dewastana kini digeser ke Kunjarasana.
- Perutusan Pendeta Siwa Sewaratna yang dulu tinggal di Trinayana kini dipindahkan keDharmahanyar.
- Dang Upadyaya Pujayanta yang dijabat Pendeta di Biharanasi diganti oleh PendetaDang Upadyaya Dharma.
- Dibentuk pejabat Makarun di Hyang Karamus yang dipagang oleh Ki PanjiSukaningrat.
- Dibentuk 2 buah perutusan yaitu di Burwan yang dipegang oleh Sira Mahaguru dan di Buhara Bahung yang dipegang oleh Dang Upadyaya Kangka.
Beliau mengangkat seorang Mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis,yang tinggal di desa
Sejarah Bali
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Bahasa Sanskerta dari India pada 100 SM.
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, di antaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1945, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
















