MUKJIZAT


Pada zaman Khalifah Abu Husain bin Sa'ad, di kota Ishfahan, seorang lelaki mengaku-ngaku sebagai Nabi. Tentu saja ia segera ditangkap oleh pihak keamanan, lalu dihadapkan ke sidang pengadilan yang dihadiri sejumlah ulama dan pejabat tinggi pemerintah.

"Siapa kamu?" tanya hakim.

"Seorang nabi yang diutus," jawab lelaki itu.

"Setiap nabi pasti punya tanda mukjizat," kata hakim.

"Benar, aku bahkan punya mukjizat yang belum pernah dimiliki oleh nabi atau rasul-rasul terdahulu sebelumku," jawabnya.

"Coba buktikan," kata hakim.

"Siapa diantara kalian yang punya isteri, puteri atau saudara perempuan cantik, bawa ia kemari. Aku akan membuatnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki seketika," jawabnya.

Terpengaruh oleh ucapan yang meyakinkan itu, Abu Husain bin Sa'ad percaya dan buru-buru berkata: "Aku percaya anda memang seorang nabi, maafkan aku."

Tetapi seorang ulama maju ke depan dan berkata: "Sayang aku tidak punya wanita yang kamu maksudkan. Tetapi sebagai gantinya aku punya seekor kambing betina yang cukup molek. Tolong bikin dia bunting untukku."

Laki-laki yang mengaku-ngaku sebagai nabi langsung bangkit dan pergi.

"Mau ke mana kamu?" tanya hakim.

"Aku mau menemui Jibril. Akan aku beritahu ia bahwa orang-orang di sini menginginkan seekor anak kambing, dan tidak membutuhkan seorang nabi," jawabnya sambil terus pergi.

( Sumber : Kitab Mu'jam al-Adibba' oleh Yaqut ).

BEFIKIRLAH SEBELUM BICARA (LOL)


"Kalau kamu hendak membicarakan sesuatu pakai dahulu otakmu. Pikirkan dengan matang. Setelah itu baru katakan dengan kalimat yang baik dan benar."

Pada suatu hari di musim hujan, keduanya sedang duduk-duduk santai di dekat api unggun di rumahnya. Tiba-tiba sepercik api mengenai jubah tenunan dari sutera yang dikenakan sang ayah. Peristiwa itu dilihat putranya, namun ia diam saja. Setelah berpikir beberapa saat barulah ia membuka mulut.

"Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu. Bolehkah?" tanyanya.

"Kalau menyangkut kebenaran katakan saja," jawab sang ayah.

"Ini memang menyangkut kebenaran."

"Silakan."

"Aku melihat benda panas berwarna merah,"

"Benda apa itu?"

"Sepercik api mengenai jubah ayah."

Seketika itu sang ayah melihat jubah yang sebagian sudah hangus terbakar.

"Kenapa tidak segera kamu beritahukan kepadaku?"

"Aku harus berikir dahulu sebelum mengatakannya, seperti apa yang anda nasihatkan kepadaku tempo hari," jawab putranya dengan lugu.

Sejak itu ia berjanji akan lebih berhati-hati dalam memberikan nasihat pada putranya. Ia tidak ingin peristiwa pahit seperti itu terulang lagi.

(Sumber: Kitab Nafhu al-Thayib, al-Muqri al-Til)